Kebijakan Penutupan Tempat Pariwisata dan Hiburan Rugikan Masyarakat

251 Views

Jakarta, Diberitakan.com – Pemrov DKI Jakarta melalui Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia mengeluarkan Surat Edaran No 160/SE/2020 tanggal 20 Maret 2020 tentang Penutupan Sementara Kegiatan Operasional Industri Pariwisata Dalam Upaya Kewaspadaan Terhadap Penularan Infeksi Covid-19) mendapat cibiran dan umpatan dari mereka yang bekerja di dunia malam.

Sebut saja Mawar, yang bekerja di salah satu cafe di wilayah Jakarta Barat, melontarkan kekesakannya. Ia mengatakan apabila tempat hiburan di tempatnya bekerja di tutup sementara, maka penghasilannya akan berkurang.

“Saya punya anak satu, dan harus saya biayainya setiap bulan, orangtua saya juga miskin. Apakah saya harus jual diri agar bisa menghidupi anak saya dan keluarga saya?” ucapnya, Sabtu malam (21/3/2020) di kontrakannya.

Wanita asalan Subang ini tingggal di rumah kontarakan di wilayah Cengkareng ini, sangat kecewa atas kebijakan Gubernur DKI Jakarta melalui Kadis Parekraf DKI Jakarta yang menghimbau penutupan sementara industri pariwisata terkait Covid-19.

“Sejak corona merebak, manajemen tempat saya bekerja langsung menyediakan pengukur suhu badan dan cairan antiseptik. Para tamu pun dihimbau untuk selalu cuci tangan. Alhamdullilah…, tempat usaha di tempat saya bekerja selalu ramai, karena tamu juga nyaman dan tidak takut terinfeksi. Kalau sudah begini, apakah tempat saya bekerja harus ditutup juga?” ungkapnya.

Janda bohay yang tak lupa menunaikan sholat itu,  mengutarakan, bahwa walaupun dirinya bekerja di dunia malam, namun dirinya tetap bersyukur atas rizki yang diterimanya dari tamu dan manajemen. Pasalnya rezeki itulah dimanfaatkan olehnya untuk menghidupi anak dan keluarganya yang berada di Subang.

“Kalau tempat hiburan ini ditutup, anak dan keluarga saya makan apa? Baru saya lho…, lalu bagaimana dengan terapis dan waitress, bahkan LC di tempat lain? Nasibnya tidak akan jauh beda dari saya,” tandasnya.

Indah pun berharap agar himbauan Kadis Parekraf tersebut direvisi kembali, demi kelangsungan hidup manusia yang mencari nafkah di Kota Metropolitan ini.

Berbeda halnya dengan temannya Usi, salah satu terapis griya pijat di bilangan Tanjung Duren, Jakbar, mengaku dengan tidak pekerjaan lagi, maka dirinya akan kembali ke kampung  di Kabupaten Sukabumi.

Keputusan tersebut diambilnya, karena griya pijat tempatnya bekerja wajib ditutup sementara. Dan dirinya pun tidak ada penghasilan serta tidak dapat membiayai hidupnya selama himbauan penutupan sementara tersebut.

“Kota ini sudah menjadi kota mati. Semua ketakutan. Tempat hiburan di tutup, tidak dapat mencari nafkah lagi. Entah siapa yang salah. Apakah kota ini sudah terlalu banyak dosa-dosanya hingga kebijakan pemimpinnya tidak lagi melihat sisi kehidupan warganya,” ucapnya kecewa bercampur kesal. Dan mengungkapkan untuk ongkos pulang ke kampung saja harus mengutang ke manajernya.

“Miris…! itulah ungkapan yang dapat disampaikan kepada pemimpin negeri ini. Kebijakan Anies Baswedan melalui Kadis Parekraf DKI Jakarta mengenai penutupan tempat-tempat pariwisata, seperti klub malam, karaoke keluarga, SPA, Pijat Griya, Bioskop, Bola Gelinding dll dipandang tidak populer dan membunuh perekonomian Kota Jakarta. Tanpa tempat hiburan, akan muncul masalah baru, orang stress akan membludak layaknya jamur di musim penghujan,” tegas salah satu clubber, Yongki, saat ditemui Jumat (20/3), di Diskotik Pujasera.

“Kebijakan ini tentunya membuat sengsara para pelaku usaha. Mengingat, kebutuhan ekonomi, keluarga kami juga perlu biaya untuk kehidupan,” imbuhnya.

Diketahui Dalam Surat Edaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Ka. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ) No.160/SE/2020 tertulis tentang Penutupan Sementara Kegiatan Operasional Industri Pariwisata. Dalam Upaya Kewaspadaan Terhadap Penularan Infeksi Corona Virus Disease (Covid-19), mulai tutup Senin, 23 Maret sampai dengan Minggu, 5 April 2020. HS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social profiles

Sponsor